Kisah Titik Nol Pakde Pur – Bagi komunitas pejuang stroke di Indonesia, nama Pakde Pur tentu sudah tidak asing lagi. Sosok jenaka dan penuh energi positif ini dikenal sebagai pencetus slogan “Stroker Harus Bahagia” (SHB) sekaligus admin andalan di grup WhatsApp KRESHNA Foundation yang dipercaya langsung oleh Bapak Suhadi sejak awal berdiri. Namun, tahukah Anda dari mana nama “Pakde Pur” berasal?
Nama asli beliau adalah Andreas Harry Purwanto. Nama panggung “Pakde Pur” sendiri merupakan panggilan sayang yang diberikan oleh anak perempuan tercintanya saat mereka sedang membuat podcast di Kedai Mak Juss. Siapa sangka, nama pemberian sang anak kini menjadi sangat terkenal di kalangan komunitas dan jagat konten digital.

Namun, di balik senyum ramah seorang kakek (Mbah Kung) dari dua putri cantik dan tiga orang cucu ini, ada sebuah kisah “Titik Nol” yang sangat dramatis tentang bagaimana stroke mengubah garis hidupnya dalam semalam.
Sisi Lain Pakde Pur: Sosok Tangguh yang Hobi Berolahraga
Sebelum terserang stroke, Pak Andreas adalah pria paruh baya yang sangat aktif dan bugar. Beliau memiliki hobi berkebun, memelihara ikan koi serta ikan hias, hingga berolahraga. Salah satu hobi berat yang rutin beliau lakukan adalah bersepeda (Gowes).
Setiap akhir pekan (weekend) pada hari Sabtu, Pak Andreas selalu melakukan gowes bersama teman-temannya. Rutinitas ekstrem ini dimulai sejak pukul 06.00 pagi dan baru berakhir pukul 20.00 malam. Dengan rute perjalanan yang menempuh jarak kurang lebih 100 kilometer, beliau baru tiba di rumah dalam kondisi fisik yang sangat kelelahan.
Kronologi Serangan: Pecah Pembuluh Darah 9cc di Tempat Fitnes
Kelelahan hebat akibat aktivitas fisik yang berlebihan inilah yang memicu terjadinya serangan stroke yang sama sekali tidak disangka-sangka.
Tepat pada tanggal 17 Oktober 2022, di usianya yang menginjak 55 tahun, Pak Andreas sedang berolahraga di tempat fitnes. Detik-detik mencekam itu terjadi ketika beliau ingin meraih botol air minum. Tiba-tiba, botol tersebut tidak bisa diraih dan tangan beliau sama sekali tidak bisa merasakan apa-apa.
Setelah dilarikan ke rumah sakit dan menjalani pemeriksaan CT Scan, hasil medis menunjukkan angka yang mengejutkan:
-
Tekanan Darah (Tensi): Mencapai 241/120 mmHg.
-
Diagnosis: Terjadi pendarahan pada otak sebelah kanan akibat pecahnya pembuluh darah sebesar 9cc.
Akibat serangan fatal ini, beliau harus berjuang di ruang HCU (High Care Unit) selama 3 hari, dilanjutkan dengan perawatan di ruang inap selama 3 hari dalam kondisi tubuh yang sangat lemah. Kesedihan itu terasa kian mendalam karena beliau harus berjuang melewati masa kritis ini tanpa didampingi sang istri tercinta yang sudah lebih dahulu berpulang ke Surga.
Langkah Tertatih di Dua Bulan Pertama Pasca-Stroke
Perjuangan sesungguhnya dimulai setelah keluar dari rumah sakit. Dua bulan pertama pasca-stroke adalah fase yang penuh air mata dan kerja keras. Jangankan untuk bersepeda 100 kilometer seperti dulu, untuk berjalan sejauh 2-3 meter saja Pak Andreas harus melakukannya dengan tertatih-tatih dan bersusah payah.
Namun, keterbatasan fisik itu tidak membuat mental Mbah Kung yang satu ini runtuh. Di sinilah cikal bakal gerakan Stroker Harus Bahagia (SHB) itu lahir.
Baca juga: Stroker Harus Bahagia: Menjemput Pulih Lewat Energi Positif Pakde Pur (Andreas)
Misi Mulia di KRESHNA Foundation: Berbagi Motivasi Lewat SHB
Berangkat dari pengalaman pahitnya di titik nol, Pakde Pur tidak ingin pejuang stroke lain merasa sendirian dan putus asa. Sebagai admin di KRESHNA Foundation, beliau bersama komunitas aktif membagikan tips kesehatan dan edukasi pemulihan yang sangat praktis, mulai dari cara melatih pola jalan yang benar, teknik menggerakkan tangan dan kaki, hingga asupan motivasi harian. Bagi Pakde Pur, itulah esensi utama dari SHB: saling menguatkan dan menjemput pulih bersama.
Pesan Emas Pakde Pur untuk Sesama Pejuang Stroke
Di akhir ceritanya, Kisah Titik Nol Pakde Pur (Andreas Harry Purwanto) meninggalkan pesan mendalam yang wajib ditanamkan di dalam hati oleh setiap stroker:
-
Jangan Menyalahkan Tuhan: Terima, ikhlas, dan berdamai dengan keadaan diri sendiri saat ini.
-
Selalu Bersyukur: Tetap cari alasan untuk bahagia di tengah keterbatasan.
-
Jangan Malas Bergerak dan Berlatih: Ingat prinsip penting ini: “Latihan seorang stroker bukanlah untuk menjadi seorang atlet, tetapi latihlah dirimu untuk pulih!”
Baca juga:
Sebagai penutup dan pembakar semangat bagi seluruh pejuang stroke di Indonesia, Pakde Pur memiliki sebuah semboyan jenaka nan ikonik yang selalu digaungkan bersama gerakan Stroker Harus Bahagia (SHB):
🍷🐻 “Anggur Merah Susu Beruang… Jangan Menyerah, Terus Berjuang!”
Sebuah kalimat sederhana yang mengingatkan kita semua bahwa dalam perjuangan menjemput kesembuhan, hati yang gembira dan mental yang pantang menyerah adalah obat yang paling utama.
